Rehabilitasi Lahan Pertanian Rusak di Madina Hampir Selesai, Atika Berikan Apresiasi kepada Kementan-TNI

Pemulihan lahan pertanian yang rusak di Madina kini memasuki tahap akhir. Proses rehabilitasi di Tangga Bosi, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) telah berhasil diselesaikan, setelah sebelumnya mengalami kerusakan akibat banjir besar yang melanda pada November 2025. Keberhasilan ini menjadi sinyal positif bagi para petani yang terdampak bencana, memberikan harapan baru untuk kembali mengolah lahan mereka.
Fokus Pemulihan Lahan di Kecamatan Naga Juang
Setelah pencapaian di Tangga Bosi, pemerintah daerah kini mengalihkan perhatian ke upaya pemulihan lahan pertanian di Kecamatan Naga Juang. Proyek ini ditargetkan untuk rampung dalam waktu dekat, tepatnya pada akhir pekan depan. Lahan seluas 17 hektare di kawasan ini mengalami kerusakan parah akibat banjir yang disebabkan oleh luapan Aek Namora, yang membawa material pasir dan batu ke area pertanian.
Monitoring Langsung oleh Wakil Bupati
Wakil Bupati Madina, Atika Azmi Utammi Nasution, melakukan peninjauan langsung ke lokasi rehabilitasi di Tangga Bosi pada Selasa (9/6/2026). Dalam kunjungannya, ia menegaskan bahwa prioritas utama dari program rehabilitasi adalah memastikan bahwa para petani dapat segera memulai masa tanam padi. Hal ini menjadi langkah penting untuk mengembalikan hasil produksi padi yang sempat hilang akibat bencana sebelumnya.
“Pemerintah memiliki target agar petani bisa melakukan panen dalam waktu empat bulan ke depan. Ini merupakan upaya penting dalam memulihkan kembali tonase produksi padi yang terdampak oleh bencana,” ungkap Atika saat meninjau tempat kerja. Ia menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam proses rehabilitasi ini.
Dukungan untuk Produktivitas Petani
Untuk mendukung para petani dalam mencapai target panen tersebut, Pemerintah Kabupaten Madina melalui Dinas Pertanian sedang mengusulkan bantuan sarana produksi. Usulan ini mencakup penyediaan bibit unggul yang akan diberikan kepada setiap petani yang mengalami kerugian akibat bencana.
Meskipun bantuan ini masih dalam proses pengusulan, Atika memberikan apresiasi yang tinggi terhadap semangat para petani lokal. Ia mengungkapkan bahwa para petani telah menunjukkan inisiatif dengan mulai melakukan persiapan untuk masa tanam secara mandiri, tanpa menunggu kepastian bantuan dari pemerintah.
Semangat Petani Lokal
“Antusiasme petani kita terlihat jelas. Mereka bahkan sudah mulai melakukan persiapan untuk masa tanam secara mandiri, menunjukkan bahwa mereka tidak hanya bergantung pada bantuan dari pemerintah,” tambahnya. Sikap proaktif ini diharapkan dapat mempercepat proses rehabilitasi lahan yang rusak, sehingga kegiatan pertanian dapat segera berjalan kembali.
Pemulihan Sistem Irigasi di Naga Juang
Setelah keberhasilan rehabilitasi di Siabu, perhatian Atika kini beralih ke proyek pemulihan sistem irigasi di Kecamatan Naga Juang. Ia menekankan bahwa infrastruktur air yang baik adalah kunci utama keberhasilan musim tanam ini. Tanpa sistem irigasi yang memadai, usaha pertanian yang dilakukan akan sangat terganggu.
Atika berharap agar pengerjaan fisik irigasi dapat dilakukan dengan maksimal dan presisi. Ia menekankan pentingnya untuk menghindari aktivitas konstruksi lanjutan yang berpotensi merusak areal persawahan warga. Dengan sistem irigasi yang baik, diharapkan akan ada peningkatan hasil panen yang signifikan.
Kerja Sama Multistakeholder
Keberhasilan dalam rehabilitasi lahan pertanian ini tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak. Wakil Bupati Madina menyampaikan rasa terima kasih kepada Kementerian Pertanian RI dan TNI yang telah memberikan respons cepat di lapangan. Kerja sama ini menjadi contoh nyata betapa pentingnya kolaborasi dalam menangani masalah yang dihadapi masyarakat.
- Kerjasama dengan Kementerian Pertanian RI
- Dukungan dari TNI dalam penanganan bencana
- Pendampingan ilmiah dari Akademisi Universitas Sumatera Utara (USU)
- Partisipasi aktif pemerintah desa
- Peran serta masyarakat dalam rehabilitasi
“Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada akademisi dari Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan pendampingan ilmiah, serta kepada pemerintah desa dan semua elemen masyarakat yang bahu-membahu dalam mengatasi masalah ini,” jelasnya. Kerja sama ini diharapkan dapat terus berlanjut untuk memperkuat ketahanan pangan di daerah tersebut.
Pentingnya Kesadaran Lingkungan
Dalam penutupan keterangannya, Atika mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, terutama setelah rehabilitasi lahan dan infrastruktur irigasi. Ia mengimbau agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan, karena hal ini dapat menyumbat saluran air yang telah diperbaiki, memicu banjir, dan pada akhirnya merugikan areal persawahan.
“Saya ingin menekankan kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Tumpukan sampah dapat mengakibatkan penyumbatan irigasi yang bisa memicu banjir dan merusak hasil pertanian kita,” pungkasnya. Dengan kesadaran dan kerja sama semua pihak, diharapkan pemulihan lahan pertanian ini dapat membawa hasil yang optimal dan berkelanjutan bagi masyarakat Madina.



